Translate

Kamis, 23 April 2015

Misteri Sepasang Danau yang Indah di Pegunungan Arfak


Asal Daerah: Manokwari
Alkisah sepasang anak manusia yang tinggal di pegungan Arfak, Manokwari, Papua Barat, Indonesia. Mereka hidup berdua dan memadu cinta hingga kekuatan cinta mengabadikan diri mereka menjadi dua buah danau besar yang ada sampai sekarang. Bahkan legenda setempat menyebutkan bahwa danau tersebut masing-masing ditinggali oleh seekor naga jantan dan betina. Dualisme jenis kelamin inilah yang pada akhirnya membuat warga setempat percaya bahwa kedua danau besar ini pun berkelamin jantan dan betina. Oleh karena itu, masyarakat asli setempat menamakan danau jantan sebagai Anggi Ginji dan danau betina sebagai Anggi Gita.
Alam yang indah memang sudah tidak aneh di Papua. Kekayaan alam yang begitu mempesona memang tersebar luas di salah satu pulau besar Indonesia ini. Kekaguman ini juga akan kita saksikan ketika kita mengunjungi Danau Anggi di wilayah Manokwari, propinsi Papua Barat. Hamparan hutan hijau yang masih liar, pegunungan yang menjulang tinggi, dan kehidupan pedesaan yang masih tradisional menjadi daya tarik luar biasa atas anugerah tak ternilai dari Tuhan ini.
Danau Anggi yang terdiri atas dua danau besar ini terletak di kawasan cagar alam pegunungan Arfak dan berada di ketinggian kurang lebih 2.950 meter di atas permukaan laut. Untuk mencapai wilayah tempat tinggal suku Arfak ini, membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan mobil berpenggerak 4 roda. Harus dengan mobil off-road karena medan jalan menuju tempat ini memang mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Jalan tanah dengan batu-batu besar dan sungai-sungai deras yang harus diseberangi menjadi situasi yang dihadapi ketika menuju danau Anggi. Bahkan tidak jarang, para pelancong yang pergi ke danau ini akan menemui tanah longsor dan terhambat selama beberapa jam hingga tanah longsor dapat diatasi. Oleh karena itu, sopir-sopir kendaraan off-road yang biasa melewati jalan ini tidak akan berangkat bila cuaca hujan kurang bersahabat.
Perjalanan menuju danau Anggi memang relatif lama, namun tidak perlu kuatir karena pemandangan alam yang akan kita saksikan pun mampu membuat lupa waktu. Bila kita berangkat dini hari dari Manokwari, kemungkinan besar kita akan menyaksikan indahnya matahari terbit diantara pegunungan Arfak. Keindahan ini tidak akan terbayar dengan nilai uang dan kita tidak akan berhenti beryukur bila menyaksikannya. Bulatnya matahari pagi muncul diantara gunung-gunung besar seakan menguak kabut-kabut pagi yang masih menyelimuti sebagian besar wilayah pegunungan. Hangatnya matahari akan berpadu dengan dinginnya udara asli pegunungan dan menghasilkan kesejukan yang sangat nyaman dinikmati.
Sesampainya di wilayah danau, kita akan disapa oleh perkampungan  penduduk yang umumnya adalah masyarakat asli suku Arfak. Mereka sudah tinggal di wilayah ini sejak jaman purba dan sangat menghormati alam sekitar yang begitu indah ini. Rumah-rumah tradisional mereka yang biasa disebut rumah kaki seribu pun akan banyak ditemui di sepanjang jalan kampung sekitar danau. Warga setempat umumnya ramah dan memiliki sikap yang jauh lebih sopan dari masyarakat pegunungan papua secara umum. Mereka juga terkenal dengan kekuatan dalam berjalan kaki tanpa alas dari satu desa menuju desa lain yang berjarak puluhan kilometer.
Jauhnya perjalanan ini akan kita rasakan juga ketika kita melihat danau Anggi Gita yang terletak lebih rendah dari danau Anggi Ginji. Sebenarnya, ada dua alternatif jalan menuju kedua danau ini, satu melalui jalur atas dan satu lagu melalui jalur bawah sehingga kita akan menemui danau betina terlebih dulu. Jalan tanah berbatu yang berliku-liku menjadi penghubung kedua danau besar ini. Sebuah gunung tinggi menjulang menjadi pemisah kedua danau ini dan untuk mencapai Danau Anggi Ginji, kita akan mengitari gunung ini.
Danau Anggi Ginji maupun Gita memiliki air yang cukup tenang, perbedaannya terletak di warna air. Danau Anggi Ginji memiliki air yang berwarna kehitaman sedangkan Gita memiliki air berwarna biru terang, perbedaan ini disebabkan oleh pantulan hutan-hutan di sekitar danau dan berbagai plankton yang terdapat di dalam danau. Tumbuhan-tumbuhan khas pegunungan pun akan banyak kita saksikan di kedua danau Anggi, umumnya tumbuhan ini adalah endemik khas tempat ini, yang berarti tidak ada di wilayah lain.
Danau Anggi memang sulit dicapai, namun itu semua tidak akan berarti ketika kita menyaksikan sendiri keagungan alam sekitar danau yang begitu menakjubkan. Bahkan, menurut warga setempat kedahsyatan danau Anggi sudah diakui para peneliti dari luar negeri. Banyak sekali peneliti yang ingin meneliti kedalaman kedua Danau Anggi, namun belum ada satupun yang mampu menyelam dan mencapai dasar danau. Oleh karena itu, hingga kini kedalaman danau Anggi masih menjadi misteri yang belum terungkap. Misteri danau Anggi ini akan terus ada menjadi daya tarik dan bersinergi dengan pegunungan Arfak yang begitu unik.
muhammad17_Beberapa_tanaman_endemik_yang_hanya_terdapat_di_wilayah_pegunungan_Arfak.jpg


muhammad17_Birunya_pegungan_Arfak_di_pagi_hari.jpg


muhammad17_Danau_Anggi_Ginji_yang_terletak_lebih_tinggi.jpg


muhammad17_Danau_Anggi_Gita_betina_yang_letaknya_lebih_rendah.jpg


muhammad17_Deretan_pegunungan_Arfak_yang_begitu_indah_berwarna_hijau_kebiruan.jpg


muhammad17_Jalanan_menuju_Danau_Anggi_yang_masih_terjal_dan_berupa_jalan_tanah.jpg


muhammad17_Ketenangan_terpancar_dari_padang_rumput_yang_mengitari_Danau_Anggi_Gita.jpg


muhammad17_Kondisi_pegunungan_Arfak_yang_masih_berselimutkan_kabut_tebal_di_pagi_hari.jpg


muhammad17_Salah_satu_sudut_cantik_untuk_menikmati_Danau_Anggi_Gita.jpg


muhammad17_Situasi_Sunrise_di_pegunungan_Arfak.jpg


muhammad17_Suasana_Danau_Anggi_Ginji_jantan_dari_wilayah_atas_pegunungan_Arfak.jpg

Susi Air – “Kopaja Langit” di Tanah Papua

24 Nov
Mengenal Susi Air – “Kopaja Langit” di Tanah Papua
Mengenal Susi Air – Salah Satu Penerbangan Perintis di Papua Asuhan Susi Pudjiastuti
Susi Air – One of Flight Pioneer in Papua
MansarPost – Sobat pembaca setia,, tahu yang namanya Susi Air nga…?? Akhir-akhir ini lumayan sering dibahas oleh berbagai media seiring dengan dilantiknya Ibu Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan tahun kabinet 2014-2019… Yuuup,, Susi Air adalah salah perusahaan penerbangan perintis yang sering mansarpost lihat saat mansarpost masih bertugas di Papua dahulu,, jauh-jauh sebelum ibu Susi mulai terkenal seperti sekarang ini…
Mansarpost masih ingat betul,, ketika dua kabupaten dipisahkan oleh hutan hujan yang jaraknya ratusan kilometer,, hanya bisa ditempuh dengan kendaraan offroad 4WD selama kurang lebih 8-10 jam jika kondisi lancar,, maka di saat itu pula Susi Air datang memberikan angin segar bagi mereka yang tidak punya banyak waktu luang…
image
Penampakan diatas adalah penampakan armada Susi Air pada tahun 2010 lalu,, saat itu mansarpost hanya mengantar atasan seusai bertugas di Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat… Pesawat tersebut daya tampungnya terbatas,, sekitar 12 orang kalo nga salah,, itupun berat badan penumpang dibatasi, klo terlalu berat nga boleh naik… Jadwalnya hanya 2 kali seminggu pada saat itu, makanya selalu penuh…
Pesawat dengan daya tampung sebanyak 12 orang tersebut,, disana kami menyebutnya sebagai “Kopaja Langit”,, sedangkan untuk pesawat yang lebih kecil lagi sekitar 5 orang penumpang kami menyebutnya sebagai “Taksi Langit”… Ohh ya,, harga tiket antar kabupaten saat itu sekitar 1,5jt-an lumayan menguras kantong,, saingannya adalah mobil offroad yang bisa menampung 6 orang untuk kap tertutup,, untuk kap terbuka/losbak cukup untuk menampung 10 orang dengan harga sewa sebesar 5juta/mobil…
Itulah kiranya yang mansarpost tahu tentang Susi [Kopaja Langit] Air,, semoga bisa menghubungkan daerah-daerah terpencil di Papua sana…

Festival Budaya Lembah Baliem

Festival Lembah Baliem awalnya merupakan acara perang antar suku Dani, Lani, dan Suku Yali sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan. Sebuah festival yang menjadi ajang adu kekuatan antar suku dan telah berlangsung turun temurun namun tentunya aman untuk Anda nikmati.

Sekilas tentang Lembah Baliem

 Pasir tanpa laut Lembah Baliem - www.thelostraveler.com
Pasir tanpa laut Lembah Baliem – Copyright www.thelostraveler.com
Lembah Baliem merupakan lembah di pegunungan Jayawijaya. Lembah Baliem terletak pada ketinggian 1600 meter dari permukaan laut. Lembah ini dikelilingi oleh gugusan pegunungan dengan ciri pemandangannya yang indah dan masih natural.
Lembah Baliem terkenal sebagai tempat tinggal suku Dani yang terleak di Desa Wosilimo. Desa Wosilimo sendiri berjarak sekitar 27 km dari Kota Wamena Papua.

Daya Tarik Festival Lembah Baliem

Pesiapan perang suku lembah baliem
Pesiapan perang suku lembah baliem
Festival Lembah Baliem menceritakan tentang bagaimana suku-suku di dalam daerah Lembah Baliem berperang. Perang antar suku di Festival Lembah Baliem dimulai dengan skenario pemicu perang seperti penculikan warga, pembunuhan anak suku, atau penyerbuan ladang yang baru dibuka. Adanya pemicu ini menyebabkan suku lainnya harus membalas dendam sehingga penyerbuan pun dilakukan. Atraksi ini tidak menjadikan balas dendam atau permusuhan sebagai tema tetapi justru bermakna positif yaitu Yogotak Hubuluk Motog Hanoro yang berarti Harapan Akan Hari Esok yang Harus Lebih Baik dari Hari Ini.
Advertisement
Suku-suku di suku Papua meski mengalami modernisasi tetapi masih memegang teguh adat istiadat dan tradisi mereka. Salah satu yang paling menonjol adalah pakaian pria suku Dani yang hanya mengenakan penutup kemaluan atau disebut koteka.
Koteka terbuat dari kulit labu air yang dikeringkan dan dilengkapi dengan penutup kepala yang terbuat dari bulu cendrawasih atau kasuari, sedangkan para wanita suku Dani mengenakan rok yang terbuat dari rumput atau serat pakis yang disebut sali. Saat membawa babi atau hasil panen ubi, para wanita membawanya dengan tas tali atau noken yang diikatkan pada kepala mereka.
Suku Dani Lembah Baliem
Warga Suku Dani yang menghuni Lembah Baliem – TEMPO/Cunding Levi
Suku Dani terbiasa berperang untuk mempertahankan desa mereka atau untuk membalas dendam bagi anggota suku yang tewas. Para ahli antropologi menjelaskan bahwa “perang suku Dani” lebih merupakan tampilan kehebatan dan kemewahan pakaian dengan dekorasinya daripada perang untuk membunuh musuh. Perang bagi Suku Dani lebih menampilkan kompetensi dan antusiasme daripada keinginan untuk membunuh. Senjata yang digunakan adalah tombak panjang berukuran 4,5 meter, busur, dan anak panah. Seringkali, karena perang orang terluka daripada terbunuh, dan yang terluka dengan cepat dibawa keluar arena perang.
Kini, perang suku Dani diadakan setiap tahun di Festival Bukit Baliem di Wamena selama bulan Agustus. Dalam pesta ini, yang menjadi puncak acara adalah pertempuran antara suku Dani, Yali, dan Lani saat mereka mengirim prajurit terbaiknya ke arena perang mengenakan tanda-tanda kebesaran terbaik mereka. Festival ini dimeriahkan dengan Pesta Babi yang dimasak di bawah tanah disertai musik dan tari tradisional khas Papua. Ada juga seni dan kerajinan buatan tangan yang dipamerkan atau untuk dijual.
Setiap suku memiliki identitasnya masing-masing dan orang dapat melihat perbedaan yang jelas di antara mereka sesuai dengan kostum dan koteka mereka. Pria suku Dani biasanya hanya memakai koteka kecil, sedangkan pria suku Lani mengenakan koteka lebih besar, karena tubuh mereka lebih besar daripada rata-rata pria suku Dani. Sedangkan pria suku Yali memakai koteka panjang dan ramping yang diikatkan oleh sabuk rotan dan diikat di pinggang.
Dengan menghadiri Festival Lembah Baliem maka Anda akan memiliki kesempatan langka untuk belajar dan bersentuhan langsung dengan beragam tradisi suku-suku setempat yang berbeda-beda tanpa harus mengunjunginya ke pedalaman Papua Barat yang jauh dan berat. Diperkirakan festival ini diikuti oleh lebih dari 40 suku lengkap dengan pakaian tradisional dan lukisan di wajah mereka.

Cara Pencapaian Lokasi Festival Lembah Baliem


Banyak pilihan maskapai penerbangan yang melayani rute penerbangan ke Wamena. Untuk rute ke Wamena sendiri, anda harus transit terlebih dahulu di Bandara Sentani, Jayapura lalu kemudian melanjutkan dengan pesawat jenis ATR yang berkapasitas 40 set tempat duduk (Trigana Air) ke Wamena. Kemudian perjalanan ke Lembah Baliem dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan roda 4 (empat) menuju Distrik Wosilimo kurang lebih 27 km. Untuk pemesanan tiket penerbangan bisa anda lakukan secara online melalui situs penyedia tiket pesawat seperti Traveloka, Wego, Nusatrip dan layanan tiket online dan reservasi hotel Jelajah Indonesia.

Tips Berwisata Di Lembah Baliem

  • Selama festival, siapkan kamera Anda dalam memori berkapasitas besar. Karena Anda akan banyak melihat hal-hal unik yang tidak boleh dilewatkan. Peserta suku yang terlibat lebih dari seribu orang dengan mengenakan tanda-tanda kebesaran suku mereka. Ada yang unik yaitu mereka menggunakan kacamata hitam trendy meski dalam pakaian tradisional. Mintalah mereka dengan sopan agar berpose bersama Anda karena jelas ini hal yang tidak biasa yang tidak boleh dilewatkan.
  • Anda juga dapat menyaksikan pertunjukan pikon atau alat musik tradisional yang mengisahkan kehidupan manusia. Ada juga karapan babi yang manjadi atraksi menarik dan menimbulkan keriuhan peserta dan penonton. Selain itu Anda dapat menyaksikan perlombaan memanah, melempar sege atau tongkat ke sasaran, puradan yaitu menggulirkan roda dari anyaman rotan, dan sikoko yaitu melempar pion ke sasaran. Perlombaan-perlombaan ini dapat Anda ikuti secara langsung.
  • Yang perlu Anda lakukan selama festival hanya mengamati dan menikmati perang saja sambil memotret. Semakin lama festival ini berlangsung maka suasana perang dengan tombak, parang, dan panah yang menghantam lawan akan semakin dekat dan seru. Semakin banyak tombak yang meleset maka semakin keras sorakan dari ratusan penonton. Suku-suku ini telah mengikuti festival perang setiap tahun sehingga acaranya semakin menarik tiap tahunnya.
  • Setelah festival selesai, pengunjung dapat berjalan-jalan ke Pasar Suku Dani di Wamena dan mengunjungi Desa tradisional Wauma yang dapat dicapai dengan mobil dari Wamena. Di Aikima Anda dapat melihat mumi kepala desa yang telah berumur 250 tahun. Dari Aikima setelah mendaki 2 jam Anda dapat melihat mata air garam yang telah digunakan wanita suku Dani selama berabad-abad untuk membuat garam dengan cara yang sederhana.
  • Kita bisa mendapatkan mesin ATM beberapa bank kecuali BCA
  • Persiapan fisik yang prima mesti dijaga, perbedaan drastis suhu di siang hari dan malam bisa membuat tubuh mengalami gejala seperti deman.
  • Untuk menghindari terkena serangan malaria sebaiknya kita meminum pil kina atau sejenisnya sebanyak 3 kali. Waktunya adalah seminggu sebelum berangkat, saat di lokasi dan seminggu setelah di rumah, masing masing sebanyak 1 kali.
Demikian sekilas informasi seputar Festival Budaya Lembah Baliem, semoga informasi bisa menambah wawasan bagi anda tentang tempat-tempat wisata Indonesia atau lokasi wisata di Indonesia dan keanekaragaman budaya di Indonesia yang menarik dan wajib untuk dikunjungi jika anda sedang berlibur di Provinsi Papua.
Jangan lupa beri KOMENTAR dan klik tombol LIKE atau SHARE jika artikel berikut ini bermanfaat dan layak untuk disebarkan sebagai informasi yang berguna kepada teman anda.
NB : Untuk pagelaran Festival Budaya Lembah Baliem tahun 2015 dilaksanakan di Distrik Walesi, karena pertimbangan keamanan.
Sumber foto dan informasi : Tempo Online, Wikipedia Indonesia, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, thelostraveler.com

Raja Ampat

Kepulauan Raja Ampat merupakan tempat yang memiliki berpotensi untuk dijadikan sebagai objek wisata, terutama wisata penyelaman. Perairan Kepulauan Raja Ampat menurut berbagai sumber, merupakan salah satu dari 10 perairan terbaik untuk diving site di seluruh dunia. Bahkan, mungkin juga diakui sebagai nomor satu untuk kelengkapan flora dan fauna bawah air pada saat ini.

Dr John Veron, ahli karang berpengalaman dari Australia, misalnya, dalam sebuah situs ia mengungkapkan, Kepulauan Raja Ampat yang terletak di ujung paling barat Pulau Papua, sekitar 50 mil sebelah barat laut Sorong, mempunyai kawasan karang terbaik di Indonesia. Sekitar 450 jenis karang sempat diidentifikasi selama dua pekan penelitian di daerah itu.



Tim ahli dari Conservation International, The Nature Conservancy, dan Lembaga Oseanografi Nasional (LON) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pernah melakukan penilaian cepat pada 2001 dan 2002. Hasilnya, mereka mencatat di perairan ini terdapat lebih dari 540 jenis karang keras (75% dari total jenis di dunia), lebih dari 1.000 jenis ikan karang, 700 jenis moluska, dan catatan tertinggi bagi gonodactyloid stomatopod crustaceans. Ini menjadikan 75% spesies karang dunia berada di Raja Ampat. Tak satupun tempat dengan luas area yang sama memiliki jumlah spesies karang sebanyak ini.

Ada beberapa kawasan terumbu karang yang masih sangat baik kondisinya dengan persentase penutupan karang hidup hingga 90%, yaitu di selat Dampier (selat antara P. Waigeo dan P. Batanta), Kepulauan Kofiau, Kepualauan Misool Timur Selatan dan Kepulauan Wayag. Tipe dari terumbu karang di Raja Ampat umumnya adalah terumbu karang tepi dengan kontur landai hingga curam. Tetapi ditemukan juga tipe atol dan tipe gosong atau taka. Di beberapa tempat seperti di kampung Saondarek, ketika pasang surut terendah, bisa disaksikan hamparan terumbu karang tanpa menyelam dan dengan adaptasinya sendiri, karang tersebut tetap bisa hidup walaupun berada di udara terbuka dan terkena sinar matahari langsung.




Spesies yang unik yang bisa dijumpai pada saat menyelam adalah beberapa jenis pigmy seahorse atau kudalaut mini, wobbegong dan Manta ray. Juga ada ikan endemik raja ampat, yaitu Eviota raja, yaitu sejenis ikan gobbie. Di Manta point yg terletak di Arborek selat Dampier, Anda bisa menyelam dengan ditemani beberapa ekor Manta Ray yang jinak seperti ketika Anda menyelam di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Jika menyelam di Cape Kri atau Chicken Reef, Anda bisa dikelilingi oleh ribuan ikan. Kadang kumpulan ikan tuna, giant trevallies dan snappers. Tapi yang menegangkan jika kita dikelilingi oleh kumpulan ikan barakuda, walaupun sebenarnya itu relatif tidak berbahaya (yang berbahaya jika kita ketemu barakuda soliter atau sendirian). Hiu karang juga sering terlihat, dan kalau beruntung Anda juga bisa melihat penyu sedang diam memakan sponge atau berenang di sekitar anda. Di beberapa tempat seperti di Salawati, Batanta dan Waigeo juga terlihat Dugong atau ikan duyung.


Karena daerahnya yang banyak pulau dan selat sempit, maka sebagian besar tempat penyelaman pada waktu tertentu memiliki arus yang kencang. Hal ini memungkinkan juga untuk melakukan drift dive, menyelam sambil mengikuti arus yang kencang dengan air yang sangat jernih sambil menerobos kumpulan ikan. Ada juga pesawat karam peninggalan perang dunia ke II yang bisa dijumpai di beberapa tempat penyelaman menjadikan tempat yang bagus untuk wreck dive seperti di P. Wai. Dan masih banyak lagi situs terumbu karang yang sebenarnya belum pernah dijamah. Ini menjadikan penyelaman di Raja Ampat terasa lebih menantang.

http://berwisata.com/category/wisata-papua/

Carstenz Pyramide

Nama Cartensz diambil dari penemunya yaitu seorang pelaut asal Belanda, John Carstensz yang menyaksikan adanya puncak gunung yang tertutup oleh Es di negara ekuator. Tidak ada yang percaya dengan pernyataan nya tersebut. John Carstensz adalah orang eropa pertama yang menyaksikan puncak Cartesz dengan mata kepalanya sendiri.

Orang Indonesia menyebutnya dengan Puncak Jaya, walaupun sebenarnya Puncak Jaya bukan merupakan puncak tertinggi dari Carstensz itu sendiri. Puncak jaya adalah salah satu puncak yang dianggap tertinggi yang ada di pegunungan Jaya Wijaya






Ada beberpa perbedaan pendapat mengenai ketinggian puncak Carstensz Pyramid ini. Ada yang menyatakan bahwa ketinggiannya adalah 4884 m (16023 feet, bebrapa sumber menyebutnya dengan 16013 feet ), ada pula yang meyatakan bahwa ketinggiannya adalah 5030 meters (16503 ft). Australian navigational air maps menyatakan bahwa ketinggiannya adalah 16503 feet (5030 meters). Entah yang mana yang benar, namun yang pasti adalah bahwa puncak Carstensz Pyramid ini merupakan puncak tertinggi di Indonesia, bahkan di Australia dan Oceania.


Puncak Jaya (Carstensz Pyramid, 4884 m, 16023 ft), Puncak Mandala (4640m, 15223 ft), dan Puncak Trikora (4730m, 15518 ft), adalah tiga puncak utama yang terkenal dia pegunungan papua barat. Carstensz Pyramid dalah puncak yang tertinggi, ketiga puncak tersebut terletak di bagian barat dari pegunungan Jayawijaya.Dari ketiga puncak diatas, hanya Carstensz Pyramid yang selalu diselimuti salju. Lalu darimanakah datangnya salju yang ada da puncak Carstensz ini, yang notabene berada di Indonesia, yang merupakan Negara ekuator? Hal ini memang suatu keadaan yang tidak biasa. Salah satu alasan logis nya adalah adanya badai salju tropis yang kadang akan membawa salju pada suatu tempat diatas ketinggian 4000 m. Puncak Jaya ini (4884 m) adalah salah satu persinggahan salju yang dibawa oleh badai tersebut 


Ada 3 rute utama untuk mencapai puncak Caratensz ini. Yang pertama biasa disebut dengan rute Harrer (Harrer’s Route). Rute ini merupakan rute yang paling mudah untuk dilewati. Meskipun mudah, tidak berarti segalanya akan mudah dalam menaklukkan puncak Jaya ini.





Harrer’s route menempuh perjalanan untuk naik dan turun sekitar 12 sampai 15 jam. Tingkat kesulitannya berkisar antara 3-4 standar UIIA. Kesulitan yang ada dalam menempuh rute ini adalah ketika berada di bawah puncak jaya. Kemiringan tebing yang curam, sampai dengan 10-15 derajat setinggi kira-kira 80 meter, membutuhkan ekstra kehati-hatian. Standar UIIA menytakan bahwa kesulitan dalam hal ini adalah 5-5+. Pengalaman dannpengetahuan yang cukup dalam hal climbing merupakan bekal utama. Bebatuannya cukup kuat dan tidak mudah longsor/lepas. Kesulitan yang akan dihadapi akan lebih besar lagi ketika mencapai bebatuan yang bergerigi dengan overhang wall yang berkisar 10 meter, dengan tingkat kesulitan 6-7+ satandar UIIA. Bagi pendaki pemula hal ini bisa diatasi dengan menggunakan Jumar sebagai alat bantu nya. 


Rute yang kedua adalah East Ridge. Rute ini merupakan pertengahan antara rute Harrer dan rute yang paling sulit. Jalan yang ditempuh akan lebih jauh dan tentunya juga akan lebih lama.

Rute yang ketiga adalah American Direct. Rute ini merupakan rute yang akan menempuh perjalanan langsung ke puncak. Rute ini memerlukan skill, pengalaman, dan juga pengetahuan yang memadai tentang Climbing. Yang terburuk dari rute ini adalah, tingkat kesulitan yang semakin tinggi ketika mendekati puncak, yaitu tebing yang curam, dinding dari puncak Cartensz.

Jika beruntung, dari Puncak Jaya (Cartensz Pyramid), anda akan dapat menyaksikan laut. Jika tidak, maka anda hanya dapat menyaksikan lokasi tambang emas, dan juga hutan di sekitar pegunungan Jayawijaya